Ingin Terlihat Hebat Di Depan Anak

Judul dari artikel memang terbaca cukup menggelitik. Namun ini adalah salah satu pengalaman hidup saya yang terjadi kira-kira 2 minggu yang lalu. Saya ingin terlihat hebat di depan anak dan akhirnya hanya berakhir dengan candaan dan tawa terbahak-bahak. Tidak hanya anak, istri dan saudara saya juga ikut tertawa.

Sekitar 2 minggu yang lalu saya bersama dengan saudara perempuan, istri, dan juga anak pergi mengikuti kapal pesiar. Mungkin kata mengikuti tidak cukup tepat ya… bisa dikatakan saya bersama dengan mereka berlibur dengan kapal pesiar. Meskipun awalnya saya tidak mau karena merasa itu adalah kegiatan yang membosankan. Saya lebih senang jika liburan itu ke pantai saja dan ada banyak turis bulenya.

Di dalam kapal tersebut yang memang telah dilengkapi dengan beragam fasilitas, tetap saja membuat saya tidak nyaman. Saya hanya mondar-mandir trus makan, mondar-mandir trus makan, itu saja yang saya lakukan sebelum kapal menepi di dermaga sebuah negara. Namun setelah berada di sebuah negara maka itulah yang saya nantikan. Kami segera turun dan mencoba menelusuri beragam tempat di negara tersebut dan tidak lupa aneka kulinernya.

Setelah 3 hari berada di kapal pesiar, saya ingin tampak hebat di depan anak dengan mengatakan lihat itu perahu motor cepat, papi dapat membuatnya dari kertas. Wah anak langsung dengan sigap memberikan selembar kertas kepada saya. Waduh… padahal saya hanya mengatakan saja saya mampu membuatnya namun tidak ingin membuatnya sekarang. Apalagi saya lupa caranya. Namun agar terlihat hebat di depan anak akhirnya saya mencoba untuk membuat sebuah perahu motor dari kertas.

Hampir satu jam dan entahlah udah berapa kertas yang menjadi korban namun tetap saja saya mengalami kegagalan. Tiba-tiba dari belakang saya anak menunjukkan sebuah desain origami dan mengatakan apakah papi mau membuat origami ini ? Terkejut saya dan mengatakan bagaimana kakak mampu membuatnya.

Dengan polos dia mengatakan bahwa baru saja kakak ikut kursus origami. Merasa dipermainkan agak emosi saya dan mengatakan jangan sembarangan kapan ikut kursusnya bukankah kakak dari tadi ada di belakang papi. Lalu dia menjawab Kakak kursusnya dibelakan papi gurunya adalah google. Hahahahahahaha terdengar suara riuh dari belakang saya yang pada saat saya lihat istri dan adik perempuan saya tertawa terbahak-bahak. Akhirnya saya juga ikut tertawa karena saya merasa geli sendiri terhadap diri saya.

Hal ini dikarenakan awalnya saya ingin tampak hebat di depan anak, eh ternyata anak mampu lebih hebat daripada saya. Kemudian dengan bijak saya berkata kepada anak saya, papi bangga sama kamu. Pintar seperti papi. Terdengar kembali suara tertawa yang lebih keras dari belakang pundak saya. Dikarenakan ingin menghilangkan rasa malu maka sayapun melebur ke dalam suasana tersebut dan ikut tertawa. Tertawa mentertawakan diri saya sendiri.